Kecanduan – Anasir Perilaku

Secara tradisional, istilah ‘ketergantungan’ telah digunakan untuk menunjukkan penggunaan repetitif bersama terus-menerus suatu benda nang mengarah ke ketergantungan fisiologis, terlepas berawal belanja sosial, keuangan bersama kesehatan; ketentuan pecandu sebelumnya dibatasi untuk orang-orang nang menggandul di zat-zat seperti nikotin, alkohol, heroin, ataupun obat-obatan lainnya. Akantetapi, baru-baru ini, para peneliti medis bersama psikolog hingga di kesimpulan maka kecanduan tak perlu terbatas di zat-zat, tetapi juga angsal meliputi gelagat. Tipe ketergantungan ini juga disebut ketidakmandirian perilaku ataupun proses.

Peneliti medis percaya maka ketergantungan perilaku angsal diklasifikasikan sebagai kecanduan karena mereka menunjukkan bagian inti nang sama nang mengidentifikasi penyalahgunaan subjek kimia ataupun benda. Pengidentifikasi utama ini ialah suasana hati, toleransi, pantang, bersama modifikasi kumat. Kecanduan perilaku meminta perubahan suasana hati, menghasilkan perasaan nang merangsang ataupun “tinggi”; anasir toleransi berjasa maka jumlah era nang dihabiskan untuk mengumbar semestinya terus meningkat untuk menghasilkan modifikasi suasana hati; sindrom penarikan mengacu di reaksi bodi bersama penuhemosi nang amat negatif nang ditunjukkan oleh pecandu ketika perilaku dihentikan; bersama alhasil, gejala relaps menunjukkan maka terjajah tak angsal mengurangi ataupun menghentikan pengiriman ke gelagat pokerace99.

Penelitian telah menetapkan maka analitis kecanduan benda, apapun nang menjadi kecanduan tubuh bukanlah subjek kimia nang disalahgunakan seperti halnya neurokimia nang memicu kecanduan. Faktanya, anasir pemicu sebetulnya berawal penyakit kecanduan ialah modifikasi nang diwujudkan analitis neurokimia tubuh oleh benda nang disalahgunakan, bersama ini juga asi untuk kecanduan perilaku. Deskripsi kecanduan nang diperluas didasarkan di pengamatan maka ketika pecandu menuruti kecanduan, otak di dasarnya mencari “amplop” bersama amplop itu becus berkelakuan subjek kimia ataupun pengalaman. Kebutuhan untuk repetitif kali memintasi pengalaman menghasilkan orang nang terjebak analitis perilaku kompulsif

Kecanduan perilaku termasuk kesenangan analitis perjudian, gaji, seks, dunia, televisi ataupun lebih-lebihlagi makanan. Segala kegiatan ini ialah kepingan berawal kehidupan bersama tak mempunyai buntut negatif di jalur abnormaltaknormal. Misalnya, lawatan sesekali ke kasino tak angsal menyebabkan kerugian, kecuali mungkin kehilangan sejumlah duit; tetapi apabila seseorang terlibat analitis kasino ataupun perjudian on-line amat sering bersama mengerjakannya bersama-sama mengorbankan pekerjaan rutin mereka, maka pasti ada hujah untuk cemas. Ketika orang seperti itu tak becus menyerah analitis permainan, meskipun ia tahu berfungsi maka adatbudaya itu angsal merusak hidupnya, ia ialah pecandu perilaku. Televisi angsal menjadi asalmuasal ketergantungan lainnya, membikin orang itu menjadi pecandu televisi, mengabaikan segala kegiatan rutin lainnya. Patut sering, orang ini tahu maka kesenangannya tak pantas, apakah menyerah, tetapi tak mampu mengerjakannya; analitis kaum kasus, pecandu televisi hanya membalik saluran bersama tak menonton apapun pun secara khusus tetapi tak angsal mematikan bersama pergi. Ketidakberdayaan mutlak inilah nang menjadi sifat khas kecanduan perilaku. Kegiatan lain, seperti berbuat, membeli, makanan bersama seks, nang semuanya dibutuhkan untuk kehidupan nang sehat, mengambil karakteristik kecanduan apabila mereka menyerah secara amat bersama tanpa kendali; istilah-istilah seperti ‘gila kerja’ bersama ‘gila gaji’ digunakan untuk menunjukkan kecanduan hal. Segala kecanduan ini merusak tak hanya kesehatan ataupun keuangan pribadi, tetapi juga mempunyai buntut nang amat negatif di anakbini, kehidupan sosial bersama profesional.