Sepakbola Aturan Offside

Tujuan bermula Acarasusunanacara Offside

Tujuan bermula Acarasusunanacara Offside merupakan sama cukup Sepakbola seperti cukup hoki – untuk mencegah “cherry-picking” oleh pemain nang kamp cukup ambang gawang tim lain. Tanpa Aturan offside, Sepakbola atas menjadi lomba lapangan rafi bermula ping pong, diisi membarengi tendangan panjang kembali bolak mengacak gila bermula satu ujung lapangan nang lain. Bahu-membahu mencegah “offside” pemain bermula ikutserta (agak)berat permainan, aturan menempatkan premi pada dribbling kembali melewati, tak tendangan panjang. Ini mempromosikan kerja sama tim, nang, pada gilirannya, mendorong bergeser acap bermula satu sisi lapangan ke sisi lainnya, kembali kompres cukup https://idliga365.net untuk house nang lebih lata bermula lapangan – rata-rata sekitar 30 ataupun 40 yard panjang. Hasil hasilnya merupakan maka segala pemain tinggal lebih antara membarengi bergendang, kembali tiap orang mempunyai peluang nang lebih jujur ikutserta (agak)berat permainan.

The Offside Rule:

“Posisi Offside”

Seorang pemain (agak)berat posisi offside hanya dihukum sekiranya, pada bagi bandela menyentuh ataupun dimainkan oleh salah satu timnya, dia, bersendikan pendapat wasit, nang terlibat (agak)berat lancong menjalar membarengi mengganggu lancong, ataupun mengganggu lawan , ataupun memperoleh keuntungan membarengi berada cukup posisi itu.

Hukum 11 negara maka seorang pemain berada (agak)berat “posisi offside” tiap kali “dia lebih antara ke tujuan lawannya bermula kedua bandela kembali lawan terakhir kedua,” kecuali “dia cukup separo sendiri bermula papak lancong.” Perolehan lebih sederhana:

– Tak ada nang “offside” cukup separo sendiri bermula lapangan.

– Tak ada nang “offside” sekiranya danlagi membarengi, ataupun cukup jingkir bandela.

– Tak ada nang “offside” sekiranya danlagi membarengi, ataupun cukup jingkir kembar ataupun lebih lawan.

Selain itu, ada tiga pengecualian utama untuk aturan offside. Siapapun nang mendapatkan bandela segera bermula lemparan ke (agak)berat, tendangan sudut, ataupun tendangan gawang, tak bisa “offside.” Selesai, sekiranya Sally mendapatkan bandela segera bermula rekan setimnya nya lemparan ke (agak)berat, tak peduli sekiranya dia (agak)berat posisi offside. Benih maka itu merupakan lemparan ke (agak)berat berharga maka lancong itu tak offside. Akantetapi, sekiranya sira mengibaskan bandela berangkaian untuk Jane, nang lebih jauh downfield bermula Sally merupakan, Jane bisa offside, karena dia mendapatkan bandela bermula Sally, tak bermula lemparan ke (agak)berat. Keadaan nang sama antusias untuk tendangan sudut kembali tendangan gawang, juga. Andaikan bandela berdiam segera bermula restart, lancong tak bisa offside; tetapi setelah pemain pertama mendapatkan bandela, nang “offside” aturan berdiam kembali ke (agak)berat lancong.

“Terlibat (agak)berat Vigorous Play”

Berbalahan membarengi kira-kira kesalahpahaman populer, tak melanggar aturan hanya untuk pemain berada (agak)berat posisi offside. pelanggaran berdiam hanya ketika sebuah “offside” pemain menjadi terlibat (agak)berat lancong. Selesai wasit – ataupun asisten wasit cukup sela-sela – nang memungkinkan lancong untuk terus danlagi sekiranya segala orang bisa mengamati pemain jujur cukup luar garis offside mungkin tak kehilangan apa-apa. Sebaliknya, mereka mengaplikasikan aturan membarengi adil, membarengi membiarkan lancong terus hingga pemain (agak)berat “posisi offside” menjadi “offside” membarengi terlibat (agak)berat lancong.

Ada tiga – kembali hanya tiga – situasi cukup mana seseorang (agak)berat posisi offside dihukum karena “offside.” Seluruh bermula mereka, bagaimanapunjuga, memerlukan ikutserta (agak)berat lancong bermula posisi offside – ataupun, (agak)berat kata-kata aturan, menjadi “terlibat (agak)berat lancong menjalar” cukup salah satu bermula tiga ala:

– Mengganggu lancong

– Mengganggu lawan, ataupun

– Mendapatkan keuntungan membarengi berada cukup posisi offside.

Mannequin nang paling gampang bermula “offside” berdiam ketika pemain offside mendapatkan umpan bermula rekan satu tim. Analitis masalah ini, dia segera “mengganggu lancong” karena sira mendapat bandela. Mannequin lain bermula prinsip nang sama mengaplikasikan logika nang sama, tetapi berupaya untuk mengampuni pemain kira-kira langkah, ataupun pelatih kembali peminat kira-kira serangan jantung. Selesai, sekiranya satu ataupun lebih agresor nang terperangkap offside kembali berlari untuk lancong bandela, lancong atas “offside.” Analitis sisi lain, sekiranya seorang pemain offside menghilangkan raga bermula lancong – menarik up, misalnya, untuk membiarkan rekan setimnya onside mengumpulkan bandela – seorang administratur peringatan atas memungkinkan lancong untuk melanjutkan. Lalu sekiranya bandela atas segera ke kiper, para administratur rata-rata atas membiarkan pemain terus lancong.

Meskipun tak merupakan pelanggaran untuk berada cukup posisi offside, pemain nang tak pernah menyentuh bandela bisa tetap mempengaruhi lancong membarengi ala seperti nang atas dihukum karena offside. Pemain offside nang membentang antara lawan kembali bandela, misalnya – ataupun nang menyaring kiper bermula tembakan, ataupun mengganggu kemampuan kiper untuk melompat, ataupun mengumpulkan bandela – melanggar aturan offside membarengi ikutserta (agak)berat lancong. Akantetapi semacam ini partisipasi tak berdiam bermula menyentuh bandela. Sebaliknya, sira berdiam bermula bingung membarengi peluang lawan untuk lancong bandela. Analitis masalah ini, setelah asisten wasit mengamati partisipasi, respons nang tepat merupakan untuk mengibarkan panji-panji. Akantetapi, sekiranya pemain offside menarik atas, langkah ke samping, ataupun jelas menunjukkan maka sira merupakan menghapus ia bermula lancong menjalar bagi ini,

Analitis antara hal-hal paling susah untuk spot – jujur sebagai penonton ataupun administratur – merupakan pemain nang mengeksploitasi posisi offside untuk memperoleh keuntungan nang tak adil. Ini tak berharga maka pemain merupakan “mendapatkan keuntungan” membarengi menghindari kira-kira berkeliling inset cukup hari nang panas, akantetapi. Sebaliknya, itu berharga maka pemain merupakan mengambil keuntungan bermula posisi untuk mengeksploitasi refraksi berguna, ataupun kesalahan mencegah. Selesai, sekiranya pemain offside berkesan ke sisi gawang ketika rekan satu timnya mengambil tembakan – tetapi tak sebaliknya mengganggu lancong ataupun menghambat peluang kiper untuk membikin save – maka dia tak offside … kembali para administratur atas menghitung tujuan. Tetapi sekiranya bandela rebound, jujur bermula kiper ataupun tiang gawang, kembali pemain offside poni rumah Rebound – lancong merupakan offside, kembali tujuan tak atas menghitung,

“Kurun bandela menyentuh, ataupun dimainkan, membarengi rekan satu tim …”

Aturan Offside merupakan asalmuasal kontroversi lebih bermula tiap aturan lain (agak)berat Sepakbola. Beberapaberodaempat, masalah ini karena setidaknya ada kembar momen penting bermula penilaian (agak)berat tiap panggilan offside, ataupun tak ada panggilan. Nang kedua ini, bagi partisipasi, seringkali gampang untuk mengamati: itu rata-rata cukup mana tanah bandela kembali pemain lancong, kembali cukup sanalah segala orang nang mengamati. Tetapi nang pertama “bagi kebenaran” rata-rata jauh bermula perhatian segala orang, karena apapun nang memutuskan “posisi offside” merupakan posisi relatif bermula masing-masing pemain pada bagi bandela dipukul.

Pemain menyentuh bandela beranekarupa selama lomba Sepakbola, sering secara berturut-turut. Lalu Sepakbola menjadi permainan keluarga, pada tim nang jujur tiap pemain merupakan terus berdebar. Ini berharga maka bagi pertama penghakiman – memutuskan apakah tiap pemain berada (agak)berat posisi offside – terus bertukar, kembali posisi relatif bermula pemain atas sering tekun berparak bermula satu bagi ke bagi selanjutnyakali. Akantetapi para administratur mesti menjaga semuanya lurus, kembali mempunyai degup jantung ataupun kurang untuk mengambil snapshot psychological posisi pemain pada satu bagi membeku (agak)berat maut – bagi bandela dimainkan oleh anasir bermula satu tim – (agak)berat rangka untuk menilai apakah anasir offside tim nang lalu berdebar untuk lancong bandela, mengganggu lawan, ataupun keuntungan keuntungan bermula menjadi offside. Bersumber perspektif resmi,

Nang penting untuk diingat merupakan maka bagi menilai “posisi offside” berparak bermula bagi menilai partisipasi. Lalu ini adil mana tempat para pemain berdebar. Pemain offside nang berdiam kembali onside untuk mendapatkan bandela masih offside; untuk menghindari panggilan, sira tak bisa ikutserta hingga rekan setimnya nang lain menyentuh bandela, ataupun lawan-lawannya berdampak mengumpulkan itu. Analitis sisi lain, pemain nang onside atas tetap onside, tak peduli seberapa jauh sira berkeliling untuk mengambilnya, kembali tak peduli cukup mana pemain tim lain berdebar sementara itu. Selesai, sekiranya Steve merupakan onside ketika Tom tendangan bandela ke ambang, tak peduli apakah dia kembar puluh yard cukup jingkir pertahanan ketika sira mengumpulkan bandela. lancong atas onside … karena dia onside bagi ini rekan-nya melewati bandela. Lalu sekiranya Steve merupakan onside …

Sepakbola Administratur kembali Offside

Aturan offside telah menjadi keratin bermula Sepakbola untuk maut nang lama, memicu argumentasi kembali kontroversi sejak permulaan. Akantetapi tujuannya merupakan sederhana: untuk mencegah “cherry-picking.” Karena itu merupakan keratin penting bermula permainan, wasit atas menegakkan aturan untuk nang terbaik bermula kemampuan mereka. Tetapi ketika mereka memerintah offside lancong – ataupun membiarkan lancong terus, karena mereka tak mengamati pelanggaran – mereka tak melaksanakannya karena kasam, ataupun menyakiti satu tim ataupun nang lain. Sebaliknya, mereka melaksanakannya terlepas bermula tim mana nang sakit ataupun manfaat, hanya karena aturan memerlukannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *